Agenda IA-SMKIN GO htmL
Jumat, 26 Maret 2010
MARAH
stres, konon sering marah-marah, bukanlah pertanda baik. Berbahaya bagi
kesehatan. Begitu cerita kebanyakan orang. Punya pemimpin yang sering
marah-marah tidak keruan juga menyebalkan.
Pendapat umum ini dibantah Stanley Bing, penulis buku Sun Tzu was a
sissy. Bing, kolomnis di majalah Fortune, memang gemar menulis buku
kontroversial. Menurut Bing, marah itu sangat diperlukan dalam manajemen.
Kalau seorang pemimpin marah, artinya dia terusik dan gusar oleh sesuatu
hal. Sekaligus membuktikan bahwa ia eling atau sadar karena ada yang
tidak beres dan perlu dikoreksi. Pemimpin yang tidak pernah marah sama
dengan pemimpin acuh tak acuh. Itu menurut Bing.
Marah membangkitkan energi yang luar biasa. Pemimpin yang marah biasanya
segera melakukan perubahan, peremajaan, dan perbaikan. Artinya, pemimpin
marah memungkinkan terjadinya perubahan lebih cepat dan berarti.
Dalam hal yang satu ini, saya rada setuju. Kita kan sering melihat
betapa pemimpin kita kerjanya cuma basa-basi, klemar-klemer, tidak
melakukan gebrakan apa pun. Tapi berbahaya juga kalau kita punya
pemimpin yang pemarah atau mudah marah tanpa sebab.
Barangkali salah satu pemimpin kita yang legendaris dalam hal marah ini
adalah Bang Ali, bekas Gubernur Jakarta. Pernah ada cerita...beliau
sedang naik mobil, dan jalanan macet semrawut gara-gara ada tukang becak
yang seenaknya mengendarai becaknya. Bang Ali tidak segan-segan turun
dan memarahi tukang becak itu.
Masih banyak lagi cerita tentang marahnya Bang Ali. Kenyataannya...di
bawah kepemimpinan Bang Ali, Jakarta maju pesat. Jadi, teori Stanley
Bing ada benarnya juga.
Dr. Stephen Diamond menulis di bukunya yang sangat kontroversial, Anger,
Madness, and Daimonic: The Psychological Genesis of Violence, Evil, and
Creativity, bahwa marah adalah emosi yang paling bermasalah. Namun ada
korelasi sangat kuat antara marah dan kreativitas.
Menurut dia, marah dan kreativitas sering bersumber pada hal yang sama.
Hanya saja, marah memiliki potensi destruktif lebih besar. Orang-orang
berbakat dan genius umumnya memiliki naluri sangat tajam untuk
menyalurkan energi ini, agar tidak merusak dan mengubahnya menjadi
sebuah upaya yang konstruktif.
Ketika kita dilanda krisis moneter lima-enam tahun lalu, teman saya suka
berseloroh. Katanya, "kita butuh pemimpin seperti Bang Ali, yang berani
marah. Bukan pemimpin yang mudah marah dan ngambek. Atau pemimpin yang
suka marah-marah tidak keruan."
Dr. Stephen Diamond menulis bahwa beberapa artis seperti Van Gogh dan
Picasso, konon, memiliki kehidupan yang penuh amarah dan kekerasan.
Barangkali benar bahwa energi yang sama mereka salurkan juga ke dalam
karya-karya lukisan mereka. Hasilnya memang luar biasa.
Untuk membuat seekor kuda berlari, biasanya ada dua cara populer. Dengan
cemeti atau hadiah wortel. Menurut Stanley Bing, marah bisa menjadi
cemeti yang kreatif. Membakar semangat para eksekutif agar terus
bersemangat dan mengadakan perubahan.
Tulisan ini tentu saja tidak mengajak Anda untuk marah-marah di kantor.
Juga bukan pembenaran tindakan marah-marah. Melainkan sebagai upaya agar
kita lebih peka menghadapi lingkungan kantor.
Pesan saya, kalau ada yang tidak beres, jangan takut untuk mengadakan
perubahan. Dan kalau perubahan itu menuntut Anda marah, silakan saja.
Kadang-kadang marah itu sangat perlu.
Marah sebagai terapi manajemen memang antibudaya. Budaya kita
mengajarkan agar selalu santun dan bersabar. Namun, untuk menerobos
sebuah kemapanan yang buntu dan berkarat, marah bisa saja menjadi
antibudaya yang dibenarkan. Asal jangan asal marah.
*"Marahlah Dengan Bijaksana"*
Kamis, 11 Maret 2010
Dua Jenis Pikiran
Kecerdasan Akal (IQ) dan Kecerdasan Emosional (EQ), keduanya bekerja menjadi mesin penggerak langkah manusia. Yang pertama bekerja atas dasar dorongan pikiran rasional, sedangkan yang kedua bekerja atas dorongan pikiran emosional. Dalam artian yang sesungguhnya, manusia memiliki dua jenis pikiran, yakni yang satu berpikir dan yang satu merasa.
Kedua jenis pikiran tersebut mempunyai cara pemahaman yang secara fundamental berbeda serta bersifat saling mempengaruhi dalam membentuk kehidupan mental manusia. Mengenai pikiran rasional, adalah model pemahaman yang lazimnya kita sadari: lebih menonjol kesadarannya, bijaksana, mampu bertindak hati-hati dan merefleksi. Akan tetapi, bersamaan dengan itu ada sistem pemahaman yang lain: yang impulsif dan berpengaruh besar, dan kadang-kadang tidak logis, yaitu pikiran emosional.
Perbedaan atas dua jenis pikiran, yaitu emosional dan rasional, kurang lebih sama dengan istilah awam antara “hati” dan “kepala” atau akal. Mengetahui sesuatu itu benar “di dalam hati” merupakan tingkat keyakinan yang berbeda (yang entah bagaimana merupakan kepastian yang lebih mendalam) daripada menganggapnya benar dengan menggunakan akal.
Kedua jenis pikiran tersebut, yang emosional dan yang rasional, pada umumnya bekerja dalam keselarasan yang erat, saling melengkapi dengan cara masing-masing yang amat berbeda dalam mencapai pemahaman guna mengarahkan kita menjalani kehidupan ini. Biasanya terjadi keseimbangan antara pikiran emosional dan pikiran rasional; emosi memberikan masukan dan informasi kepada proses pikiran rasional, dan pikiran rasional memperbaiki dan terkadang memveto masukan-masukan emosi tersebut. Namun, pikiran emosional dan rasional meru-pakan kemampuan-kemampuan yang semi-mandiri; masing-masing mencerminkan kerja jaringan sirkuit yang berbeda, namun salinng terkait di dalam otak.
Di dalam banyak atau sebagaian besar peristiwa, pikiran-pikiran ini terkoordinasi secara istimewa; pikiran sangat penting bagi perasaan. Tetapi bila muncul nafsu, keseimbangan itu goyah: pikiran emosionallah yang menang serta menguasai pikaran rasional
Rabu, 10 Maret 2010
Meningkatkan Kecerdasan Emosional
Seperti halnya Gatotkaca, agar menjadi ksatria yang pilih tanding dan mempunyai otot kawat balung wesi, maka sejak bayi ia sudah harus digodok di kawah Candradimuka yang membara. Demikian pula Songtsen Gampo, pemimpin Tibet abad ketujuh yang berhasil membangun negeri kecil yang terpencil menjadi sebuah kekaisaran yang wilayahnya berkembang menjadi hampir dua kali ukuran Cina sekarang; sejak kecil ia telah ditempa dengan penderitaan hebat yang bertubi-tubi. Bahkan ketika usianya dua belas tahun, ayahnya diracun sampai mati oleh seterunya, dan sang ibu dibunuh di depan matanya sendiri.
Namun kemudian Songtsen Gampo bangkit menuju kejayaan malalui gaya kepemimpinan langka yang memadukan pikiran dan hati, kekuatan dan kasih sayang, serta kebijaksanaan yang begitu tinggi. Ia membangun kemaharajaan yang belum pernah tertandingi oleh Caesar, Atilla, maupun Alexandre, baik dalam ukuran, cakupan, maupun pengaruh. Sayangnya, belum begitu banyak yang diketahui oleh orang luar tentang sejarah hidupnya itu, sampai pada suatu ketika para peneliti dari Barat menemukan sebuah gudang rahasia berisi dokumen-dokumen selama tujuh abad yang terkubur di balik pasir gurun Asia Tengah.
Begitu juga salah seorang mantan presiden RI yang paling lama berkuasa, tak pernah sepi dari tantangan dan gemblengan. Terlepas dari kontroversi yang kemudian melingkupinya, ia telah membuktikan –pada masa jayanya—menjadi orang hebat yang disegani dan dihormati rakyatnya.
Demikianlah Songtsen Gampo, serta banyak tokoh dengan reputasi luar biasa lainnya, telah mengajarkan kepada kita akan arti belajar dengan kerasnya gemblengan. Atau kalau boleh disederhanakan, belajar dengan penderitaan dan kepahitan.
Namun demikian, ini bukan berarti bahwa untuk menjadi orang yang “pilih tanding”, otot kawat balung wesi, dan selalu “menang” dalam kancah kehidupan ini, seseorang musti berpayah-payah ria “menantang” penderitaan dan mengharapkan kemalangan yang bertubi-tubi. Bukan itu maksudnya. Jadi, penderitaan tak usah “ditantang”, kemalangan tak usah diharapkan; tetapi manakala mendapatkannya tidaklah usah berkeluh kesah berkepanjangan dan merasa bahwa hidup ini seperti pupus karenanya. Berilah kesan positif, dan tetap berprasangka baik kepada Tuhan. Percayalah, Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Napoleon Hill (1994), bahwa kemalangan adalah obat kuat, bukannya batu sandungan. Setiap kemalangan membawa benih yang memiliki manfaat setara atau lebih besar. Sangat sedikit orang yang langsung berhasil tanpa mengalami masa-masa kegagalan sementara dan keputusasaan. Namun jika Anda menguasai batin Anda, demikian kata pengarang yang pernah menjadi penasehat tiga orang presiden Amerika Serikat (William Howard Taft, Woodrow Wilson, dan Franklin D Rosevelt) ini, tidak akan ada pukulan yang dapat menjatuhkan Anda. Anda boleh saja mengambil jalan memutar di jalan yang tidak rata, tetapi Anda selalu dapat menemukan jalan Anda kembali ke jalan beraspal.
Dikatakan pula, pikiran yanga sadar akan keberhasilan berfungsi dengan cepat dan efektif. Segera setelah seseorang mengisi pikirannya dengan kesadaran akan keberhasilan yang diarahkannya sendiri, ia akan mencapai suatu tingkat efisiensi pikiran yang tidak bergantung pada pendidikan formal. Setelah melihat sasaran yang diajukan, maka seseorang akan dapat menemukan cara-cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya secara menakjubkan.
Mengutip pendapat seorang sarjana terkemuka, mantan Presiden BJ Habibie pernah mengatakan, bahwa jika manusia dengan teknologi komputer sekarang mau membuat otak manusia maka diperlukan komputer yang sebesar bola dunia ini. Betapa dahsyatnya kehebatan otak manusia, karunia Tuhan yang diberikan kepada hambaNya yang ditunjuk untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.
Menurut hasil penyelidikan dari suatu institut yang khusus menyelidiki otak manusia, terbukti bahwa sesungguhnya kemampuan otak manusia itu sangat hebat. Sayangnya, kebanyakan orang hanya menggunakan 5% saja dari kemampuannya. Bahkan belakangan prakiraan para ilmuwan tersebut telah diperbaiki: rata-rata, seorang dewasa mungkin menggunakan dengan sungguh-sungguh hanya 1/10.000 dari potensi kecerdasannya selama hidupnya.
Sebelum prakiraan itu diperbaiki, dinyatakan bahwa apabila ada orang yang biasa menggunakan 50% saja dari kemampuan otaknya atau kemampuan berpikirnya, maka gambaran kepintaran orang tersebut dilukiskan seperti: bisa menguasai 40 bahasa dengan mudah, hapal satu set ensiklopedi yang tebal-tebal lembar demi lembar dan bisa sekaligus meraih 12 titel kesarjanaan. Begitulah! Kemudian bukti neurologis terakhir menunjukkan bahwa emosi adalah “bahan bakar” yang tidak tergantikan bagi otak agar mampu melakukan penalaran yang tinggi. Dengan demikian penggabungan secara sinergis dan optimal kedua hal itu tentunya akan meningkatkan kemampuan yang lebih tinggi lagi.
Dari potensi yang dimiliki manusia tersebut, antara yang satu dengan yang lain berbeda dalam memanfaatkannya. Karenanya tak heranlah jika tiap diri berbeda dengan yang lainnya. Masing-masing mempunyai keunikannya snediri-sendiri.
Sebagai gambaran, ambillah contoh Thomas Alfa Edison yang jenius dan ulet itu; kiranya ia lebih besar dalam memanfaatkan potensi kecerdasan yang dikaruniakan Tuhan, dibanding si Suta petani bekikuk yang tahunya hanya urusan tanam padi. Dengan kecerdasan yang dimiliknya Edison dapat bersikap arif dengan merasa bahwa seribu kegagalan dalam percobaannya menemukan lampu elektrik, dirasakannya sebagai seribu cara menemukan alat penerang yang spektakuler itu. Sementara si Suta yang gagal panen karena bencana kekeringan, buru-buru menyalahkan penguasa yang katanya tidak becus mengurusi rakyatnya. Lebih udik lagi, kalau ia malah menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak sayang pada hamba-Nya. Masya Allah.
Tentu saja si Suta hanya perkecualian, sebab para petani pada umumnya justru hidup tenang penuh kedamaian serta cenderung nrimo ing pandum. Bahkan karena begitu nrimonya, tidak sedikit yang hanya pasrah mengenai rejekinya; ana dina ana upa (ada hari ada nasi), katanya.
Begitulah manusia memang makhluk yang unik. Meskipun sama-sama dibekali kelengkapan kepala dan hati (pikiran dan perasaan), serta seperangkat kemampuan lainnya, namun tidak ada yang sama persis. Karena itulah ketika ada dua orang atau lebih yang membentuk atau masuk ke dalam sebuah organisasi, akan muncullah keunikan-keunikan yang lebih kompleks lagi. Agar tujuan dapat tercapai dengn baik, maka keunikan-keunikan tersebut harus dikelola secara apik dan unik pula.
Dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan, adalah mustakhil dapat tercapai seketika; melainkan perlu tahap demi tahap. Ironisnya masalah yang tidak jarang terjadi, para pengambil keputusan “tidak cukup nyali” untuk berubah dari keadaanya yang sekarang menuju tahap selanjutnya. Kalau demikian lantas bagaimana mungkin tujuan akan dapat diraih? Seperti seseorang yang mau melangkahkan kakinya menuju rumah pujaan hatinya, misalnya, tetapi ia takut ke luar rumah, takut di jalan sebab jangan-jangan di jalan banyak pengebut, banyak penjahat, ah pokoknya banyak hal-hal yang menakutkannya. Maka dijamin ia tidak akan pernah sampai di mana-mana.
Emosi dan Kecerdasan Emosional
Emosi mempunyai energi yang sangat besar. Berlawanan dangan kebanyakan pemikiran konvensional yang selama ini dipercayai, pada kenyataannya emosi itu bukanlah sesuatu yang bersifat positif atau negatif, tetapi sesungguhnyalah ia adalah sumber energi, autentisitas, dan semangat manusia yang paling kuat, dan dapat memberikan kepada kita sumber kebijakan intuitif yang sangat berguna. Para ahli meyakini, bahwa perasaan memberi kita informasi penting dan berpotensi menguntungkan setiap saat. Umpan balik inilah –dari hati, bukan dari kepala—yang menyalakan kreativitas, membuat kita jujur terhadap diri sendiri, menjalin hubungan yang saling mempercayai, memberikan panduan murni bagi hidup dan karir, menuntut kita ke kemungkinan tak terduga, bahkan bisa menyelamatkan diri kita atau organisasi dari kehancuran.
Itulah kekuatan emosi. Tetapi sejauh ini kita membicarakan emosi, tampaknya tidak sedikit orang yang dibuat bingung oleh istilah tersebut; apa sebenarnya emosi itu? Ternyata istilah ini tidak hanya membingungkan sebagian Pembaca saja; para ahli psikologi maupun ahli filsafat juga masih memperdebatkan makna yang tepat dari istilah itu.
Secara harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”. Sedangkan Daniel Goleman, menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Menurutnya, ada ratusan emosi, bersama dengan campuran, variasi, mutasi, dan nuansanya. Sungguh, terdapat lebih banyak penghalusan emosi daripada kata yang kita miliki untuk itu.
Sebagaimana diungkap oleh Daniel Goleman (1995), para peneliti terus berdebat tentang emosi mana yang benar-benar dapat dianggap sebagai emosi primer –biru, merah, dan kuningnya setiap campuran perasaan—atau bahkan mempertanyakan apakah memang ada emosi primer semacam itu. Sejumlah teoritikus mengelompokkan emosi dalam golongan besar, meskipun tidak semua sepakat tentang golongan itu. Calon-calon utama dan beberapa anggota golongan tersebut adalah:
- Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan barangkali yang paling hebat, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
- Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan kalau menjadi patologis, depresei berat.
- Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, kecut; sebagai patologis, fobia dan panik.
- Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan indrawi, takjub, rasa terpesona, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, dan batas ujungnya mania.
- Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
- Terkejut: terkejut, terkesiap, takjub, terpana
- Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
- Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
Meskipun sudah didaftar dengan begitu njlimet dan teliti, namun ternyata daftar tersebut belum bisa menyelesaikan setiap pertanyaan bagaimana menge-lompokkan emosi. Satu contoh, bagaimana tentang perasaan yang bercampur aduk seperti iri hati, variasi dari marah yang juga mengandung unsur sedih dan takut? Juga tentang bagaimana nilai-nilai klasik seperti pengharapan dan kepercayaan, keberanian dan mudah memaafkan, kepastian dan ketenangan hati? Belum lagi beberapa masalah yang menyangkut cacat “bawaan”, seperti perasaan ragu-ragu, puas diri, malas, lamban, atau mudah bosan? Rupanya belum ada jawaban yang jelas; sehingga perdebatan ilmiah tentang bagaimana menggolong-golongkan emopsi pun terus berjalan.